Perjalanan Mengurus Paspor Part 2: Dari Bekasi Menuju Dunia Luar

Sudah 2 minggu berlalu sejak hari saya membuat paspor. Paspornya sudah jadi dan tiba dengan aman di rumah, tapi ceritanya belum selesai. Jadi berasa punya hutang hehe.

Kembali ke cerita terakhir, saya tiba di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan sekitar pukul 07:15 WIB. Untung sebelumnya saya sudah registrasi melalui M-Paspor, jadi tidak perlu waktu lama, saya langsung mendapatkan nomor antrean dan diminta untuk naik ke lantai dua untuk proses pengambilan foto dan interview.

Sampai di lantai 2 kantor imigrasi Jakarta Selatan, semua masih terasa terlalu lancar. Proses antreannya pun juga cukup cepat. Kurang lebih 20 menit saja menunggu hingga akhirnya nomor urut saya dipanggil.

Begitu di meja pelayanan, petugas imigrasi langsung mengambil foto dan sidik jari saya. Setelah itu, saya mengeluarkan dokumen-dokumen yang sudah saya siapkan sebelumnya seperti KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan Ijazah. Nah, di sinilah semua rintangannya bermulai.

Saya baru ingat kalau nama di Akta Kelahiran dan KTP serta Kartu Keluarga saya berbeda. Dulu hal ini juga pernah jadi masalah ketika saya mengikuti Ujian Nasional SD. Yang saya tahu, nama saya “Zahro” karena dari kecil dipanggilnya begitu dan di Kartu Keluarga pun tertulis seperti itu, tapi ternyata yang tertulis di Akta yaitu Nuru “Zahra”. Akhirnya, saat itu saya diminta untuk kembali ke kantor kelurahan yang tertera di KTP (Kantor Kelurahan Sepanjang Jaya, Bekasi) untuk meminta surat keterangan bahwa Nuru Zahro dan Nuru Zahra adalah orang yang sama.

Waktu itu saya sempat ragu, apakah mengurus surat ke kelurahannya dilanjutkan hari itu juga atau ditunda besok saja. Soalnya bakal melelahkan banget kalau harus bolak-balik Bekasi-Jakarta lagi. Tapi akhirnya saya putuskan untuk langsung ke kelurahan supaya urusannya bisa selesai pada hari yang sama. Saya pun kemudian memasang earphone dan memutar sebuah lagu untuk menemani perjalanan panjang kali ini.

Singkat saja, tiba-tiba saya sudah sampai di St. Bekasi dan kemudian memesan Grab untuk menuju Kantor Kelurahan Sepanjang Jaya. Dengan pedenya, saya menuntun arah driver menuju kantor kelurahan tersebut.

Kemudian kami tiba di sebuah bangunan bercat merah dan abu. Saya bingung, abang driver-nya pun bingung. Ternyata bukannya menuju kantor kelurahan Sepanjang Jaya, kami malah sampai di depan puskesmas Sepanjang Jaya :))

Setelah meminta maaf ke driver-nya, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kelurahan dengan mengikuti arahan Google Maps yang dapat lebih dipercaya 🙂

Masih dengan earphone yang terpasang di telinga, lagu berikutnya yang diputar dari playlist saya adalah sebuah lagu dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black yang berjudul “Ya Sudahlah”.

Ya sudahlah, nanti juga sampai ke kelurahan dan urusannya selesai, pikir saya.

Setelah sampai di kelurahan, saya langsung menyampaikan kebutuhan saya kepada petugas. Tapi ternyata untuk mengeluarkan surat tersebut, saya diminta untuk ke ketua RT sesuai alamat di KTP. Jujur, saya bahkan tidak tahu siapa ketua RT-nya karena sudah lama saya pindah dari daerah tersebut dan sempat tinggal di Jakarta.

Tapi untungnya, petugas kelurahannya dengan baik hati membantu menghubungi ketua RT-nya, sehingga saya hanya perlu menemuinya di pendopo dekat masjid al-Ikhlas.

Jarak dari kelurahan ke masjid tersebut tidaklah jauh, sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Untung aja cuaca saat itu cukup cerah dan sedikit berangin, jadi jalan kaki bolak-balik kelurahan-masjid di siang bolong itu masih bisa dinikmati.

Singkat cerita, setelah mendapatkan surat keterangan dari kantor kelurahan, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke St. Bekasi. Seperti de javu, lagi-lagi saya sudah di St. Bekasi dan menuju ke St. Manggarai. Namun bedanya KRL yang saya naiki kali ini adalah gerbong KRL baru buatan China.

Sudah lama sejak terakhir kali saya jadi anker (anak kereta), jadi saya lumayan amaze dengan gerbong KRL baru ini. Gerbongnya lebih luas dan desainnya juga lebih futuristik. Selain itu, perjalanannya pun terasa lebih halus dan tidak sebising gerbong KRL yang lama.

Sesampainya di St. Manggarai, saya lalu menuju peron 11 untuk naik KRL ke arah St. Duren Kalibata. Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 saat saya tiba di St. Duren Kalibata, pasti petugas imigrasinya pun lagi pada istirahat. Jadi saya mampir ke mushola stasiun untuk sholat dan istirahat sebentar.

Begitu sampai di kantor imigrasi, saya langsung menghampiri meja petugas sebelumnya yang memberi arahan untuk meminta surat keterangan kelurahan. Saya serahkan surat tersebut kepadanya dan akhirnya dokumen-dokumen saya pun lengkap dan diterima.

Saat itu saya juga diinfokan bahwa 4 hari kemudian saya dapat datang lagi ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Namun dengan lemah lembut saya menolak dan memilih opsi pengiriman via POS 😀

Setelah paspor jadi, kayaknya setelah ini saya perlu ke kantor kelurahan lagi untuk mengganti nama di KTP. Meskipun saya sebenarnya sudah mulai terbiasa dipanggil Mas/Pak Zahro (karena mungkin Zahro terkesan seperti nama cowok), tapi dengan berat hati saya harus mengganti nama menjadi Zahra karena nama di ijazah dan Akta tidak bisa diganti.

Akhirnya sampai juga di akhir cerita. Beberapa hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah:

  1. Pilih kantor imigrasi yang dekat dengan domisili. In case ada dokumen yang kurang, bolak-baliknya nggak kejauhan. Jangan ngide milih lokasi yang jauh supaya lebih effort 🙂
  2. Pastikan data kalian di KTP, Akta, dan KK sama. Kalau misalnya ada yang tidak sesuai, mungkin bisa minta surat keterangan ke kelurahan terlebih dahulu supaya nggak perlu bolak-balik.

Mengingat kembali ke perjalanan kemarin, rasanya capek tapi seru juga. Semoga perjalanan membuat paspor ini menjadi perjalanan awal sebelum saya benar-benar melakukan perjalanan keluar negeri, insya Allah.

zahroalhasany Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *