Belakangan ini saya cukup sering menonton video dari channel YouTube Ninda Fer. Salah satu alasan kenapa saya suka mengikuti kontennya adalah karena caranya menjelaskan suatu topik menurut saya sangat jelas dan mudah dipahami. Walaupun pembahasannya sering kali berkaitan dengan cara kerja otak atau neuroscience, penyampaiannya tetap terasa ringan sehingga tidak membuat saya cepat bosan.
Beberapa hari yang lalu saya menonton video yang berjudul “8 Kebiasaan Pagi ini Bisa Ubah Hidupmu”. Awalnya saya mengira isinya akan sama seperti kebanyakan konten tentang morning routine yang sering muncul di media sosial. Namun ternyata, video ini justru membahas alasan ilmiah di balik setiap kebiasaan tersebut. Jadi bukan hanya sekadar menyuruh kita bangun pagi atau berolahraga, tetapi juga menjelaskan mengapa kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat memengaruhi fokus, energi, dan produktivitas sepanjang hari.
Karena menurut saya isi videonya sangat menarik, saya memutuskan untuk merangkum beberapa poin yang saya pelajari di blog ini. Selain sebagai catatan untuk diri sendiri agar suatu saat nanti bisa saya baca kembali, semoga rangkuman ini juga bisa bermanfaat untuk teman-teman yang kebetulan sedang membaca tulisan ini.
1. Jangan Bernegosiasi dengan Alarm
Poin pertama ini langsung membuat saya merasa relate. Saya yakin bukan hanya saya yang pernah berpikir, “Lima menit lagi deh,” ketika alarm berbunyi di pagi hari.
Ternyata menurut penjelasan di video tersebut, kebiasaan menekan tombol snooze justru membuat otak terbiasa menunda keputusan sejak awal hari. Padahal, tubuh akan jauh lebih terbantu jika kita bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan. Kebiasaan ini membantu menjaga circadian rhythm atau jam biologis tubuh agar tetap stabil.
Salah satu tips yang dibagikan adalah meletakkan alarm agak jauh dari tempat tidur. Dengan begitu, kita harus benar-benar berdiri untuk mematikannya sehingga tubuh langsung mulai bergerak dan tidak punya banyak waktu untuk “bernegosiasi” kembali dengan kasur.
2. Bergerak Sebelum Duduk
Setelah tidur selama sekitar tujuh hingga delapan jam, tubuh ternyata membutuhkan sinyal bahwa hari sudah benar-benar dimulai.
Yang menurut saya menarik adalah ketika dijelaskan bahwa bagi umat Muslim, aktivitas Subuh seperti berwudu dan salat sebenarnya sudah menjadi bentuk gerakan fisik sekaligus mental yang sangat baik untuk mengawali hari.
Kalau memungkinkan, setelah itu kita bisa melanjutkan dengan stretching ringan atau berjalan kaki. Bahkan jika sudah terbiasa berolahraga, melakukan HIIT (High-Intensity Interval Training) selama sekitar 15–20 menit disebut dapat meningkatkan protein BDNF yang berperan penting dalam kemampuan belajar, daya ingat, dan fokus.
Saya baru tahu kalau olahraga pagi ternyata bukan hanya baik untuk kesehatan tubuh, tetapi juga memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan otak.
3. Mandi dengan Air Dingin
Jujur saja, ketika mendengar istilah mandi air dingin, yang langsung terbayang di kepala saya adalah orang-orang yang berendam di dalam bak berisi es.
Untungnya, yang dimaksud di video ini tidak seekstrem itu.
Kita cukup mengakhiri mandi dengan air dingin selama sekitar 30 detik. Menurut beberapa penelitian yang dijelaskan, kebiasaan sederhana ini dapat membantu tubuh terasa lebih segar dan bahkan dikaitkan dengan penurunan tingkat absensi karena sakit.
Menurut saya, ini termasuk salah satu kebiasaan yang cukup mudah dicoba dibandingkan dengan beberapa kebiasaan lainnya.
4. Tunda Membuka Handphone
Kalau harus memilih satu poin yang paling “menampar”, mungkin ini jawabannya.
Saya sendiri beberapa waktu belakangan ini sudah tidak langsung membuka handphone untuk scroll media sosial atau mengecek notifikasi begitu bangun tidur. Tapi kalau dulu, kebiasaan itu cukup sering saya lakukan. Padahal menurut penjelasan di video tersebut, pada 30–60 menit pertama setelah bangun, otak sedang berada dalam kondisi yang sangat mudah menyerap informasi.
Kalau informasi pertama yang kita terima justru berupa notifikasi pekerjaan, berita, atau media sosial, otak akan lebih mudah masuk ke mode reaktif dan memicu stres sejak pagi.
Karena itu, disarankan untuk menunda membuka handphone selama sekitar 30 hingga 60 menit pertama. Waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk beribadah, berolahraga, membaca, atau sekadar menikmati pagi tanpa gangguan notifikasi.
5. Dapatkan Cahaya Matahari Pagi
Sinar matahari pagi ternyata memiliki peran yang cukup penting dalam mengatur ritme tubuh. Paparan cahaya matahari membantu meningkatkan hormon yang membuat tubuh lebih siap beraktivitas sekaligus menekan hormon yang membuat kita mengantuk.
Cukup meluangkan waktu sekitar 10–15 menit di luar rumah atau di dekat jendela yang terkena sinar matahari sebelum pukul delapan pagi sudah bisa memberikan manfaat.
Selama ini saya lebih sering mendengar manfaat sinar matahari untuk vitamin D. Ternyata pengaruhnya terhadap otak dan energi sehari-hari juga tidak kalah besar.
6. Lakukan Self-Talk Positif dan Bersyukur
Bagian ini mengingatkan saya bahwa bagaimana kita memulai pagi ternyata juga memengaruhi cara kita menjalani sisa hari.
Di video tersebut dijelaskan bahwa membiasakan diri mengingat atau menuliskan dua sampai tiga hal yang kita syukuri ternyata memiliki dampak positif terhadap bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi dan pengambilan keputusan.
Saya suka dengan poin ini karena tidak membutuhkan waktu lama. Bahkan ketika sedang dalam perjalanan menuju kantor pun sebenarnya kita masih bisa melakukannya.
7. Sarapan dengan Nutrisi yang Tepat
Sarapan yang didominasi oleh karbohidrat olahan atau makanan tinggi gula memang dapat membuat gula darah naik dengan cepat. Sayangnya, gula darah juga akan turun dengan cepat sehingga tubuh menjadi lebih mudah lemas atau mengantuk menjelang siang.
Sebaliknya, makanan tinggi protein seperti telur, Greek yogurt, atau sumber protein lainnya dapat membantu menjaga energi tetap stabil lebih lama.
Poin ini membuat saya jadi lebih memperhatikan lagi pilihan menu sarapan setiap pagi.
8. Kerjakan Pekerjaan yang Paling Berat Terlebih Dahulu
Poin terakhir ini juga sangat menarik.
Biasanya ketika mulai bekerja, saya langsung membuka email atau membalas pesan yang masuk. Padahal menurut penjelasan di video tersebut, kemampuan berpikir dan willpower kita justru sedang berada di kondisi terbaik pada pagi hari.
Karena itu, akan lebih baik jika satu jam pertama digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang paling penting atau yang selama ini paling sering kita tunda.
Setelah pekerjaan utama selesai, barulah kita beralih ke email atau pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya administratif.
Saya rasa ini cukup masuk akal. Terkadang pekerjaan yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu satu jam justru terasa lebih berat karena terus kita tunda sepanjang hari.
Penutup
Dari semua pembahasan di video ini, ada satu hal yang paling saya sukai.
Di akhir video, Ninda tidak menyarankan kita untuk langsung menerapkan kedelapan kebiasaan tersebut sekaligus. Sebaliknya, beliau justru menyarankan agar kita memilih satu kebiasaan yang paling relevan dengan kondisi kita saat ini, lalu melakukannya secara konsisten.
Menurut saya, saran ini terasa jauh lebih realistis.
Sering kali kita terlalu bersemangat ketika ingin membangun kebiasaan baru. Kita membuat banyak target sekaligus, tetapi akhirnya berhenti di tengah jalan karena merasa kewalahan.
Padahal, satu kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari mungkin justru akan memberikan perubahan yang lebih besar dibandingkan dengan mencoba mengubah semuanya sekaligus.

Leave a Reply