Ketika Waktu Terasa Berlari

Jumat ini berjalan seperti biasa. Saya bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan beberapa pekerjaan, sesekali mengobrol dan bercanda dengan teman. Tahu-tahu jam pulang sudah tiba.

Tidak ada yang aneh. Semua berjalan dengan lancar, malah sangat lancar.

Namun secara acak, muncul sebuah pikiran bahwa sepertinya waktu bergerak cepat sekali. Baru kemarin saya melewati weekend. Sekarang sudah weekend lagi.

Bukannya senang, saya malah jadi sedikit takut.

Di satu sisi, waktu yang bergerak cepat berarti jam kerja terasa lebih cepat, weekdays terasa lebih singkat, dan waktu gajian rasanya tiba lebih cepat.

Tapi di sisi lain, ada rasa khawatir. Khawatir karena tidak memaksimalkan waktu dengan baik, khawatir jika kurang maksimal dalam belajar, bekerja, maupun beribadah.

Karena waktu yang bergerak cepat, berarti usia kita pun juga semakin cepat bertambah.

Semakin bertambahnya usia, saya bertanya pada diri sendiri. Apa saja yang sudah saya lakukan? Apa yang benar-benar bertumbuh dalam diri saya? Adakah ilmu yang bertambah, ibadah yang membaik, atau manfaat yang semakin banyak saya berikan kepada orang lain?

Saya jadi kembali merefleksikan diri. Bahwa sekeras apa pun kita mencoba, waktu tak akan pernah menunggu.

Jangan menunggu sampai merasa siap untuk memulai. Jangan menunggu mood untuk belajar dan memperbaiki diri. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri.

Selagi masih diberikan kesempatan untuk memiliki waktu, mari maksimalkan hidup.

Zahra Alhasany Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *