Beberapa bulan belakangan ini saya mulai mencoba menggunakan AkFina, sebuah aplikasi financial planning yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT Aktiva Kreasi Investama, sister company dari kantor tempat saya bekerja sekarang, PT Excellent Infotama Kreasindo.
Karena saya mengikuti proses meeting pengembangan produk ini dari awal, saya jadi cukup memahami bahwa AkFina memang dibuat bukan sekadar untuk aplikasi pencatat pengeluaran biasa.
Awalnya saya juga mengira aplikasi ini hanya akan fokus pada budgeting atau catatan keuangan harian.
Karena selama ini pun saya sudah terbiasa mencatat pengeluaran bulanan secara manual di buku. Jadi setiap bulan saya biasanya tahu uang habis untuk apa saja. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, transportasi, jajan, dan lain-lain.
Dan karena sudah rutin mencatat, saya pikir itu sudah cukup.
Ternyata belum tentu.
Setelah mulai mencoba mengisi data di AkFina satu per satu, saya baru sadar kalau aplikasi ini lebih seperti membantu kita melihat kondisi finansial secara menyeluruh.
Bukan cuma soal uang masuk, uang keluar, atau sisa saldo di akhir bulan. Tapi juga tentang aset, utang, dana darurat, proteksi, sampai tujuan keuangan jangka panjang.
Dan jujur, ketika mulai mencoba mengisi data saya sendiri di aplikasi itu, ada beberapa hal yang cukup membuat saya berpikir ulang tentang cara saya mengatur uang selama ini.
Ternyata Kondisi Finansial Saya Tidak “Sekosong” yang Saya Kira

Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar mencatat aset yang saya miliki.
Karena di kepala saya, aset itu terdengar seperti sesuatu yang besar. Rumah, tanah, investasi besar, atau hal-hal yang rasanya masih jauh sekali dari hidup saya.
Padahal setelah mulai mengisi data di AkFina, saya baru sadar bahwa tabungan, emas, kendaraan, barang elektronik, dan beberapa hal lain ternyata juga termasuk aset.
Selama ini saya hanya fokus mencatat uang masuk, uang keluar, dan sisa uang di akhir bulan. Namun, saya tidak pernah benar-benar memikirkan “Sebetulnya selama ini saya sudah punya apa saja?”
Dan entah kenapa, setelah semuanya mulai dicatat, rasanya jadi sedikit lebih lega.
Bukan karena tiba-tiba merasa kaya.
Tapi saya jadi sadar kalau kondisi finansial saya ternyata tidak seburuk yang selama ini saya pikirkan ahaha. Memang belum besar, belum mapan, dan masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi setidaknya saya jadi melihat bahwa pelan-pelan ternyata tetap ada yang sedang dibangun.
Kadang kita terlalu fokus pada apa yang belum kita punya, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya sudah kita usahakan selama ini.
Selama Ini Saya Menabung, Tapi Tidak Punya Tujuan yang Jelas
Hal lain yang saya sadari adalah tentang cara saya menyimpan uang.
Selama ini saya memang selalu berusaha menyisihkan uang. Tapi uangnya bercampur semua. Tidak ada pemisahan mana yang sebenarnya untuk cadangan, mana yang untuk masa depan, dan mana yang memang aman dipakai kapan saja.
Jadi, selama ada saldo, rasanya semua masih bisa digunakan.
Kadang niatnya menabung, tapi ujung-ujungnya terpakai juga untuk hal lain hehe.
Dan itu berulang terus.
Setelah menggunakan AkFina, saya jadi mulai memahami bahwa ternyata uang memang sebaiknya dialokasikan dengan lebih jelas.
Ada emergency fund yang memang disiapkan untuk kondisi darurat.
Ada juga long-term fund yang sebenarnya tidak boleh disentuh sembarangan karena dipersiapkan untuk kebutuhan masa depan.
Hal sederhana seperti ini ternyata cukup mengubah cara saya memandang uang.
Ternyata tujuan dari tabungan itu sendiri juga penting.
Pelan-Pelan Belajar Lebih Terorganisir
Saya sendiri masih belajar mengatur keuangan.
Masih banyak yang perlu diperbaiki juga.
Tapi setidaknya sekarang saya mulai lebih memahami bahwa mengelola uang ternyata bukan cuma tentang “bulan ini masih ada sisa atau tidak”.
Melainkan juga tentang:
- Apakah kita punya perlindungan?
- Apakah kita siap menghadapi keadaan darurat?
- Dan apakah kita sedang membangun sesuatu untuk masa depan?
Dan mungkin itu yang selama ini sering saya lewatkan.
Kadang kita merasa kondisi finansial sudah baik-baik saja hanya karena masih punya saldo di rekening. Padahal belum tentu semuanya benar-benar terencana.
Sekarang saya masih tetap mencatat pengeluaran seperti biasa. Bedanya, saya mulai belajar melihat keuangan dengan gambaran yang lebih utuh. Dan ternyata semuanya memang butuh proses.

Leave a Reply