Hari Pertama di Disway Explore Jateng

Kalau kemarin saya bercerita tentang perjalanan dari Bekasi ke Semarang, hari ini adalah hari pertama agenda resmi Disway Business Explore Jateng dimulai. Dari pagi sampai malam, jadwalnya benar-benar padat. Mulai dari belajar service excellence di Halo BCA, melihat proses produksi di pabrik, mengunjungi Polytron EV, hingga makan malam bersama Gubernur Jawa Tengah. Capek sih, tapi seru juga karena banyak sekali hal baru yang saya pelajari hari ini.

Pagi hari saya berangkat dari HOM Hotel menuju Hotel Chanti Semarang sekitar pukul 07.10 dan tiba kurang lebih pukul 07.19. Setibanya di lokasi, saya melakukan registrasi dan menerima ID card peserta.

Setelah seluruh peserta berkumpul, kami langsung berangkat menuju destinasi pertama: Halo BCA.

Belajar Service Excellence di Halo BCA

Di Halo BCA, kami disambut oleh Ibu Wani Sabu selaku Vice President BCA. Sesi beliau menurut saya termasuk salah satu sesi yang paling “daging” sepanjang hari itu.

Ada banyak hal yang beliau sampaikan, namun beberapa poin berikut cukup membekas di ingatan saya:

  • Jika ingin mengetahui apakah sebuah perusahaan benar-benar baik atau tidak, lihatlah bagaimana mereka melayani pelanggan.
  • Perusahaan perlu memahami perilaku (behavior) pelanggan secara mendalam.
  • Di era digital seperti sekarang, perusahaan harus mudah dihubungi melalui berbagai platform.
  • Menariknya, mayoritas pelanggan ternyata masih lebih menyukai komunikasi melalui telepon dibandingkan dengan media sosial.
  • Untuk kanal WhatsApp, target respons di Halo BCA adalah maksimal dua menit.
  • Pertanyaan yang berulang dan repetitif dapat ditangani dengan virtual assistant agar lebih efisien.
  • Namun, virtual assistant tetap harus memiliki persona yang jelas dan terasa “manusiawi”.

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika Ibu Wani menjelaskan mengapa BCA sangat fokus pada service.

Menurut beliau, produk dan layanan finansial pada dasarnya bisa saja mirip antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Yang membedakan adalah pengalaman yang dirasakan pelanggan. Karena itu, aspek manusia menjadi sangat penting.

Beliau juga menekankan bahwa meskipun saat ini serba digital, human touch tetap tidak boleh hilang.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat relevan. Di tengah perkembangan AI, chatbot, dan otomatisasi, ternyata sentuhan manusia tetap menjadi salah satu faktor yang paling berkesan bagi pelanggan.

Selain itu, beliau juga banyak berbicara mengenai pentingnya people management.

Beberapa praktik yang dilakukan BCA antara lain:

  • Saat proses rekrutmen, mereka tidak hanya melihat kemampuan teknis, tetapi juga memperhatikan perilaku dan karakter calon karyawan.
  • Mencari orang-orang yang memiliki energi positif dan senang melayani.
  • Memberikan apresiasi kepada karyawan secara konsisten.
  • Menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat (the right people in the right place).

Beliau juga menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman mereka, tiga hal yang paling diharapkan karyawan adalah:

  1. Jenjang karier yang jelas.
  2. Apresiasi atas kontribusi mereka.
  3. Kompensasi atau gaji yang kompetitif.

Ada satu praktik menarik yang menurut saya cukup unik. Di BCA, karyawan yang sedang berulang tahun dapat memilih untuk datang dua jam lebih siang atau pulang dua jam lebih awal.

Mungkin terlihat sederhana, tetapi perhatian-perhatian kecil seperti ini ternyata mampu meningkatkan engagement karyawan.

Setelah sesi materi selesai, kami diajak berkeliling area Halo BCA untuk melihat langsung bagaimana operasional contact center dijalankan. Melihat aktivitas yang berjalan di sana membuat saya semakin memahami mengapa layanan pelanggan menjadi salah satu kekuatan utama BCA.

Mengunjungi PT Saniharto Enggalharjo

Destinasi berikutnya adalah PT Saniharto Enggalharjo.

Perusahaan ini bergerak di bidang manufaktur furnitur dan produk interior berbahan logam, khususnya untuk kebutuhan perkantoran, rumah sakit, laboratorium, pendidikan, hotel dan berbagai sektor lainnya.

Yang menarik, perusahaan ini dibangun oleh empat orang bersaudara. Mendengar cerita perjalanan mereka dari awal hingga berkembang seperti sekarang memberikan kesan tersendiri.

Sesampainya di sana, kami mendapatkan penjelasan langsung dari Bapak Harsono Enggalharjo selaku Presiden Direktur bersama putrinya, Ibu Merysia Enggalharjo. Sesi tersebut dilakukan sambil menikmati makan siang bersama para peserta.

Mereka menceritakan perjalanan bisnis keluarga, hingga bagaimana perusahaan terus berkembang selama puluhan tahun.

Setelah sesi diskusi selesai, kami diajak berkeliling area pabrik untuk melihat langsung proses produksinya. Saya cukup terkesan melihat bagaimana sebuah produk yang sehari-hari mungkin kita anggap biasa ternyata melalui proses yang panjang dan detail sebelum sampai ke tangan pelanggan.

Melihat Masa Depan Kendaraan Listrik di Polytron EV

Dari PT Saniharto Enggalharjo, perjalanan dilanjutkan menuju Polytron EV.

Di sini kami diajak melihat fasilitas produksi kendaraan listrik mereka. Tim Polytron menjelaskan berbagai produk yang sedang mereka kembangkan, mulai dari motor listrik hingga mobil listrik.

Selain mendapatkan penjelasan mengenai teknologi dan keunggulan produknya, beberapa peserta termasuk Pak Dahlan Iskan juga berkesempatan mencoba langsung kendaraan mobil listrik buatan Polytron.

Melihat perkembangan industri kendaraan listrik dari dekat membuat saya semakin menyadari bahwa transformasi teknologi memang sedang berlangsung sangat cepat.

Bertemu Gubernur Jawa Tengah

Menjelang malam, kami menuju Gedung Gradhika Bhakti Praja untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ahmad Luthfi.

Dalam presentasinya, beliau menjelaskan berbagai upaya yang sedang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, serta penguatan sektor industri dan UMKM di wilayah Jawa Tengah.

Beliau juga menyampaikan bagaimana Jawa Tengah terus berupaya menjadi daerah yang ramah investasi dengan dukungan kawasan industri, konektivitas logistik, serta berbagai program pengembangan ekonomi daerah.

Setelah sesi presentasi selesai, kami melanjutkan acara dengan makan malam bersama.

Bertemu Banyak Orang Hebat

Selain kunjungan ke berbagai perusahaan, salah satu hal yang paling saya nikmati dari kegiatan seperti ini adalah kesempatan bertemu banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda.

Hari ini saya berkenalan dengan Ibu Wiwied dari BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari, Malang.

Sebelumnya saya tidak terlalu memahami dunia bioteknologi reproduksi peternakan. Dari beliau saya baru mengetahui bahwa ada lembaga yang secara khusus memproduksi, menguji, dan mendistribusikan semen beku dari ternak unggul untuk mendukung peningkatan kualitas peternakan di Indonesia.

Mendengar penjelasan beliau membuat saya langsung teringat dengan Zeze Zahra. Saya jadi berpikir, apakah suatu hari nanti ada kemungkinan kolaborasi atau hubungan yang bisa dibangun dengan pihak-pihak seperti BBIB?

Selain itu, saya juga berkenalan dengan seorang pengusaha perempuan yang bergerak di bidang produksi gula kelapa.

Beliau bercerita bahwa gula kelapa memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir sehingga sering dianggap sebagai alternatif pemanis yang lebih sehat.

Yang membuat saya kagum adalah semangat beliau untuk terus mencari peluang dan ide bisnis baru meskipun sudah cukup lama menjalankan usahanya.

Sayangnya, saya lupa nama beliau. Padahal kami sudah makan bareng, sholat bareng, bahkan mengobrol cukup lama. Memang kalau urusan mengingat nama orang baru, saya cukup payah. 😅

Untungnya, saya cukup dekat dengan anak perempuannya yang juga ikut dalam rombongan. Jadi mungkin nanti saya bisa menggali cerita lebih lanjut lewat anaknya hehe.

Dan tentu saja, masih banyak peserta menarik lainnya.

Mulai dari pelaku usaha yang terhubung dengan jaringan bisnis besar seperti Kebab Baba Rafi, hingga pengusaha bakso pentol yang katanya sudah memiliki sekitar 300 cabang.

Kadang saya merasa acara seperti ini bukan hanya tentang mengunjungi perusahaan, tetapi juga tentang memperluas cara pandang. Kita jadi sadar bahwa ada begitu banyak bidang usaha yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan, tetapi ternyata berkembang dengan sangat baik.

Sekitar pukul 21.00 kami akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari ini benar-benar penuh aktivitas. Capek? Tentu.

Tapi saya pulang dengan membawa banyak cerita, banyak insight, dan banyak perspektif baru.

Dan yang paling saya suka, setiap kali bertemu orang-orang dengan perjalanan hidup yang berbeda, saya selalu merasa ada sesuatu yang bisa dipelajari.

Besok masih ada agenda yang tidak kalah padat. Jadi untuk malam ini, saatnya istirahat dulu sebelum melanjutkan petualangan berikutnya di Disway Business Explore Jateng.

Zahra Alhasany Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 responses to “Hari Pertama di Disway Explore Jateng”

  1. Vavai Avatar

    Zahro, yang bu Wiwied BBIB Singosari Malang itu coba tanyakan, apakah kenal dengan pak Piere di Malang. Beliau cerita, beberapa kali dapat inseminasi buatan untuk sapi-sapi peranakannya.

    Zeze Zahra akan butuh itu untuk pengembangan peternakan sapi. Kalau Zahro bisa kenal dekat dengannya, akan sangat membantu.

    Untuk yang pengusaha gula kelapa (gula semut bukan?), itu pernah diulas pak DI di Disway.

    1. Zahra Alhasany Avatar

      Baik, Pak Bos. Saya coba tanyakan terlebih dahulu ke Bu Wiwied. Kebetulan saya sudah simpan nomornya, karena selama acara saya lumayan sering barengan sama beliau.

      Untuk yang pengusaha gula kelapa sepertinya iya, Pak Bos. Karena beliau beberapa kali mengikuti Disway Explore Bisnis dan sudah dikenal juga oleh Pak Dahlan Iskan

  2. Hamba Allah Avatar
    Hamba Allah

    Tulisannya menarik mba zahro, apalagi terkait point yang pas di BCA ini :

    1. Memberikan apresiasi kepada karyawan secara konsisten.
    2. Apresiasi atas kontribusi mereka.
    3. Kompensasi atau gaji yang kompetitif.

    Dari point tersebut, menarik sekali bahwa tiga hal yang paling diharapkan karyawan ternyata bukan sekadar pekerjaan itu sendiri yaa :-D. Apakah sudah pernah ada evaluasi mengenai bagaimana persepsi karyawan terhadap tiga aspek tersebut di perusahaan tempat mba zahro bekerja? kalau belum, bisa jadi saran yang sangat bagus itu mba 🙂

    Dan kira2 untuk apresiasi pada tim, menurut mba zahro jika ada tim yang kalau mengerjakan project selalu selesai tepat waktu, apakah sebaiknya tim tersebut wajib mendapat apresiasi/fee tambahan? apalagi jika dibandingkan dengan nilai project tersebut yang misal sangat besar pemasukannya untuk perusahaan, kalau diperusahaan tempat mba zahro bekerja apakah sudah menerapkan hal ini? 🙂

    Mohon pencerahan dan saran baiknya mba zahro, terima kasih 🙂

    1. Zahra Alhasany Avatar

      Terima kasih banyak atas komentarnya

      Betul. Jika berdasarkan pengalaman saya sendiri, bekerja di perusahaan yang jarang memberikan apresiasi kepada karyawan tentu rasanya berbeda dibandingkan bekerja di perusahaan yang menghargai kontribusi karyawannya secara konsisten.

      Dari pengalaman saya, apresiasi sekecil apa pun bisa menjadi penyemangat untuk terus bekerja dengan baik. Setidaknya kita merasa bahwa usaha yang sudah dilakukan benar-benar diperhatikan dan dihargai hehe.

      Terkait evaluasi mengenai bagaimana persepsi karyawan terhadap tiga aspek tersebut, sepengetahuan saya saat ini memang belum ada evaluasi khusus. Namun menurut saya ini merupakan masukan yang sangat baik dan menarik untuk dicoba diterapkan ke depannya. Terima kasih atas masukannya 😊

      Untuk pertanyaan mengenai perlunya memberikan apresiasi atau fee tambahan bagi tim yang selalu menyelesaikan proyek tepat waktu, menurut saya apresiasi memang perlu diberikan. Namun bentuknya tidak harus selalu berupa tambahan fee atau bonus. Bisa juga berupa pengakuan di depan tim lain, kesempatan mengikuti pelatihan, pengembangan karier, atau bentuk penghargaan lainnya.

      Di sisi lain, jika proyek tersebut memberikan dampak atau profit yang cukup besar bagi perusahaan, saya pribadi merasa wajar apabila perusahaan memberikan reward tambahan kepada tim yang terlibat. Bentuknya bisa berupa bonus proyek, insentif kinerja, atau penghargaan lainnya yang disesuaikan dengan kebijakan perusahaan.

      Untuk penerapannya di perusahaan tempat saya bekerja saat ini, saya melihat arahnya sudah mulai menuju ke sana. Apresiasi terhadap karyawan menurut saya sudah cukup sering diberikan. Sementara untuk evaluasi kinerja proyek, saat ini sedang dikembangkan melalui sistem KPI agar mekanisme penilaian dan pemberian reward dapat dilakukan dengan lebih jelas, terukur, dan adil.

      Sekali lagi terima kasih atas pertanyaan dan masukannya.