Sabtu lalu, saat mengikuti sesi training oleh Pak Hari di acara MPP TBINA, Pak Hari sempat melemparkan pertanyaan kepada para peserta dari TBINA. “Apa impian/keinginanmu 5 tahun kedepan?” Pertanyaan itu sebenarnya ditanyakan kepada para peserta, namun Suyen, Adzka, dan saya yang saat itu ikut menyimak materi beliau jadi ikut saling bertanya satu sama lain. Suyen bertanya kepada saya, “Apa keinginan Mbak Zahro dalam 5 tahun kedepan?”. Karena tidak ada yang terpikirkan, saya jawab saja “pensiun”, sambil tertawa. Tentu saja ini bukan jawaban yang serius.
Setelah menjawab pertanyaan tersebut, saya jadi berpikir, “Iya juga, sebenarnya apa cita-cita atau keinginan yang ingin saya capai dalam 5 tahun ke depan?”
Kalau ditanya dalam jangka waktu dekat (1-2 tahun), saya ingin berangkat umrah (mohon doanya ya :D). Tapi kalau dalam 5 tahun, saya belum tahu apa yang sebenarnya ingin saya raih.
Mungkin terdengar seperti seseorang yang tidak berambisi.
Bisa jadi benar.
Tapi, semakin beranjak dewasa dan melewati begitu banyak hal dalam hidup, saya merasa cara saya memandang keberhasilan juga ikut berubah.
Dulu mungkin keberhasilan berarti punya target besar 5–10 tahun ke depan. Sekarang keberhasilan bisa berarti menjalani pekerjaan dengan baik, punya waktu untuk keluarga, belajar hal baru, menjaga hubungan dengan orang-orang yang penting, dan menikmati kehidupan yang sedang dijalani.
Hal ini bukan berarti saya berhenti berusaha atau tidak ingin berkembang. Saya tetap ingin belajar, bekerja dengan baik, mencoba hal-hal baru, dan melakukan yang terbaik dari apa yang sedang saya jalani. Hanya saja, sekarang saya lebih memfokuskan diri pada hidup saya saat ini.
Pekerjaan saya saat ini, keluarga saya saat ini, orang-orang yang ada di sekitar saya, dan semua hal yang saya miliki saat ini. Memikirkan bagaimana hidup saya dalam lima tahun ke depan rasanya masih terlalu jauh.
Saya tidak merasa hal ini sepenuhnya benar. Karena tidak tahu seperti apa kehidupan yang ingin saya jalani dalam lima atau bahkan sepuluh tahun ke depan, mungkin saja saya justru jadi kurang mempersiapkan diri.
Tapi, setidaknya saat ini, inilah yang membuat hati saya sedikit lebih tenang. Tidak banyak berharap, tidak terlalu overthinking tentang masa depan, dan tidak kesal sendiri kalau kenyataan tidak sesuai dengan rencana.
Mungkin lima tahun lagi saya akan punya jawaban yang lebih jelas. Mungkin juga tidak.
Untuk sekarang, saya rasa tidak apa-apa. Saya tidak harus tahu persis akan menjadi siapa dan ingin bagaimana lima tahun lagi. Yang bisa saya lakukan adalah menjalani hari ini sebaik mungkin, menjaga apa yang saya punya, terus belajar, terus bekerja, dan tetap membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Toh, hidup juga jarang berjalan persis seperti yang kita rencanakan.

Leave a Reply