Kurang lebih sebulan yang lalu saya menulis blog tentang percobaan pertama saya belajar ngoding.
Namun, karena satu dan lain hal, proyek kecil yang awalnya membuat saya penasaran tersebut belum dapat saya lanjutkan dan akhirnya saya tinggalkan begitu saja selama beberapa minggu.
Folder hasil generate Claude masih ada.
File-file coding-nya masih tersimpan.
Tapi saya tidak membukanya lagi.
Sampai suatu hari saya memutuskan untuk melanjutkan kembali apa yang sudah saya mulai sebelumnya. Rasanya jadi punya utang karena belum dituntaskan.
Walapun sebenarnya kalau tidak saya lanjutkan pun tidak masalah, karena sekarang pekerjaan tersebut sudah dikerjakan oleh Airin 😀
Tapi karena saya nggak mau kalah dari Airin (bercanda), akhirnya saya memutuskan untuk membuka kembali proyek yang sempat saya tinggalkan itu.
Masalahnya, setelah sebulan tidak menyentuhnya sama sekali, saya sudah lupa harus mulai dari mana.
Saya lupa command terakhir yang saya jalankan.
Saya lupa file mana yang harus dibuka.
Saya bahkan lupa sudah sampai tahap apa.
Jadi saya kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Buka ChatGPT.
Bertanya.
Mengikuti instruksi.
Bingung.
Lalu bertanya lagi.
Begitu seterusnya.

Ternyata perjalanan yang saya kira tinggal sedikit lagi justru masih cukup panjang.
Saya harus menginstal Python, membuat environment, mengatur konfigurasi, memahami fungsi beberapa file yang sebelumnya dibuat oleh Claude, dan tentu saja, saya harus berteman dengan Terminal.
Ya, aplikasi yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya sentuh.
Kalau dulu saya melihat Terminal seperti melihat kumpulan huruf dan angka yang tidak saya mengerti artinya (meskipun sampai sekarang juga tidak mengerti :D), sekarang setidaknya saya mulai berani mengetik sesuatu di sana.
Walaupun sering salah.
Dan sering tidak mengerti hasilnya.

Salah satu tantangan pertama yang saya hadapi adalah menghubungkan sistem dengan email kantor.
Awalnya sistem tidak bisa login ke email sama sekali.
Setelah dicari-cari penyebabnya, ternyata akun email saya menggunakan Two-Factor Authentication (2FA). Jadi password email biasa tidak bisa digunakan oleh sistem.
Saya harus membuat Application Password terlebih dahulu.


Setelah urusan email selesai, tantangan berikutnya adalah Google Spreadsheet.
Saya sempat merasa sudah mengikuti semua instruksi dengan benar, tapi hasilnya tetap error.
Ternyata penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari file yang salah tempat, spreadsheet yang belum diberikan akses, sampai spreadsheet yang ternyata masih berupa file Excel dan belum dikonversi menjadi Google Spreadsheet.


Setiap kali satu masalah selesai, muncul masalah berikutnya.
Setiap kali satu error hilang, muncul error yang baru.
Kalau ada yang bilang belajar ngoding itu seperti memecahkan puzzle, saya mulai mengerti maksudnya.
Karena memang rasanya seperti itu. Kita menyelesaikan satu bagian. Lalu menemukan bagian lain yang ternyata belum pas. Lalu diperbaiki lagi.
Dan begitu seterusnya.
Ada juga momen ketika saya merasa sistemnya sudah hampir selesai, semua koneksi sudah berhasil, email sudah bisa dibaca, spreadsheet sudah bisa diakses. Tapi ketika sistem dijalankan, yang muncul malah nama-nama yang tidak saya kenal.
Budi Santoso.
Citra Dewi.
Dan beberapa nama lainnya.
Saya sempat bingung.
“Ini siapa?”
Dan yang lebih bikin panik adalah karena sistemnya langsung otomatis mengirimkan reminder ke email-email tersebut.


Kemudian saya baru tersadar bahwa ternyata itu adalah data dummy bawaan yang digunakan saat pembuatan sistem.
Jadi bukannya membaca data tim Excellent dan Aktiva, sistem malah membaca data contoh yang dibuat oleh Claude.
Akhirnya saya harus mengganti satu per satu daftar anggota tim dengan data yang sebenarnya. Mulai dari nama, alamat email, status cuti, dan berbagai detail lainnya.
Lumayan juga ternyata.
Tapi setidaknya setelah itu sistem mulai membaca data yang benar.

Setelah melewati berbagai error, berbagai kebingungan, dan berbagai percobaan yang gagal, akhirnya saya sampai pada titik yang “yaa lumayanlah” untuk saya yang awam ini.
Sistem berhasil membaca daftar tim, berhasil membaca status cuti, berhasil mengakses email, berhasil mengakses spreadsheet. Dan yang paling penting, sistem berhasil mengidentifikasi siapa yang sudah mengirim laporan harian dan siapa yang belum.
Meskipun masih banyak kurangnya, saat ini sistem sudah dapat berjalan otomatis menggunakan cron di MacBook. Jadi nantinya sistem akan melakukan pengecekan secara berkala tanpa harus saya jalankan secara manual setiap saat.
Berikut contoh update laporan pagi ini. Karena tanggal 1 libur, otomatis tidak ada yang mengirimkan laporan.

Kalau ada satu pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini, mungkin bukan tentang coding, tapi tentang keberanian dan niat untuk mencoba.
Karena sering kali yang membuat kita tidak memulai bukan karena kita tidak mampu. Melainkan karena kita sudah lebih dulu menganggap bahwa itu bukan dunia kita.
Dulu saya menganggap coding adalah dunia orang IT. Sekarang pun begitu. Tapi setidaknya saya tahu bahwa orang non-IT seperti saya juga boleh belajar sedikit-sedikit hehe. Dan ternyata, belajar sedikit-sedikit itu cukup menyenangkan juga.
Walaupun bikin pusing dan bingung. Tapi namanya juga proses belajar.
Sekian sharing pengalaman saya belajar coding. Semoga ada sedikit hikmah yang bisa diambil dari tulisan nan panjang ini (walaupun sepertinya tidak ada).

Leave a Reply