Hari Kedua Disway Explore Jateng: Cerita dari Hari Terakhir

Kalau kemarin saya bercerita tentang hari pertama Disway Explore Jateng, hari ini adalah hari terakhir sekaligus penutup dari rangkaian kegiatan tersebut.

Pagi hari kami memulai aktivitas cukup awal. Tepat pukul 06.00, seluruh peserta mengikuti senam pagi bersama Pak Dahlan Iskan. Jujur saja, saya tidak menyangka Pak Dahlan yang usianya sudah tidak muda lagi masih begitu bersemangat mengikuti kegiatan senam ini. Beliau bahkan menjadi instruktur senam kami pada sesi ini. Senam berlangsung sekitar 30 menit dan menjadi cara yang menyenangkan untuk memulai hari.

Setelah itu kami sarapan, bersiap-siap, dan melakukan check-out dari hotel. Pukul 08.00, rombongan berangkat menuju tujuan utama hari ini, yaitu PT Sido Muncul yang berlokasi di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Sesampainya di sana, kami mendapat sambutan langsung dari Bapak Irwan Hidayat selaku Direktur Utama PT Sido Muncul.

Pada kunjungan ini, Pak Irwan sendirilah yang mendampingi kami berkeliling kawasan industri Sido Muncul. Beliau tidak hanya menjelaskan proses bisnis dan fasilitas yang ada, tetapi juga banyak membagikan pengalaman hidup serta nasihat yang menurut saya sangat berharga.

Ada beberapa kalimat beliau yang cukup membekas di kepala saya.

Yang pertama adalah:

“Satu kali melihat lebih baik daripada seribu kali mendengar

Beliau menjelaskan mengapa Sido Muncul membuka pintunya untuk ribuan pengunjung setiap bulan secara gratis. Selain itu, pengunjung dipersilakan berkeliling dan bahkan mengambil foto di area produksi.

Menurut Pak Irwan, setiap foto yang diunggah ke media sosial oleh pengunjung bisa menjadi promosi yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan iklan biasa. Tentu saja ini bisa dilakukan karena mereka percaya diri dengan kualitas produk dan proses yang mereka miliki.

Saya jadi berpikir bahwa transparansi memang bisa menjadi kekuatan tersendiri. Ketika orang melihat langsung bagaimana sesuatu dibuat, kepercayaan yang muncul biasanya jauh lebih besar dibandingkan dengan hanya mendengar cerita dari orang lain.

Nasihat kedua yang beliau sampaikan adalah:

“Perlakukan orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan.”

Menurut saya, pesan yang ingin beliau sampaikan adalah tentang empati dan ketulusan dalam memperlakukan orang lain. Baik kepada karyawan, rekan kerja, mitra bisnis, maupun pelanggan.

Kalau kita ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Kalau kita ingin dilayani dengan baik, maka berikan pelayanan yang baik kepada orang lain. Kalau kita ingin diperlakukan dengan jujur, maka kita juga harus berlaku jujur kepada orang lain.

Terkadang dalam dunia bisnis kita terlalu fokus pada target, angka, dan keuntungan, sampai lupa bahwa di balik semua itu ada manusia yang ingin diperlakukan dengan baik.

Saya rasa mungkin itulah salah satu alasan mengapa Pak Irwan begitu menekankan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan bisnis. Karena pada akhirnya, bisnis bukan hanya soal produk yang dijual, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar kita.

Nasihat ketiga yang cukup menarik adalah ketika beliau bercerita mengenai orang-orang sukses.

Menurut beliau, orang sukses biasanya melewati tiga fase penting dalam hidup: lahir, meninggal, dan fase kritis.

Fase kritis inilah yang beliau tekankan. Pak Irwan menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami sakit yang sangat parah dan harus menjalani perawatan dalam waktu yang lama. Namun, setelah berhasil melewati masa sulit tersebut, beliau merasa memiliki perspektif hidup yang berbeda.

Mungkin memang ada benarnya. Orang yang pernah berada di titik terendah biasanya memiliki daya tahan dan rasa syukur yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang belum pernah mengalaminya.

Setelah selesai berkeliling kawasan pabrik, kami melanjutkan perjalanan menuju Agrowisata Sido Muncul.

Saya cukup terkejut karena kawasan ini ternyata sangat luas dan memiliki banyak satwa. Ada singa putih, harimau, merak, rusa, dan berbagai satwa lainnya yang dipelihara dalam kawasan konservasi tersebut.

Suasananya jauh berbeda dengan area pabrik yang sebelumnya kami kunjungi.

Di salah satu pendopo di kawasan agrowisata itulah sesi sharing bersama para peserta dimulai.

Menurut saya, sesi ini justru menjadi salah satu bagian paling menarik sepanjang acara.

Pak Dahlan Iskan memanggil beberapa peserta yang memiliki latar belakang usaha unik untuk berbagi cerita di depan peserta lainnya.

Salah satunya adalah kakak-beradik yang keluarganya memiliki bisnis travel umrah dan bisnis rokok. Cerita mereka cukup menyentuh karena sebelumnya mereka sebenarnya sudah berencana mengikuti Disway Explore ke China dan bahkan sudah membeli tiket. Namun, rencana tersebut batal karena sang adik tiba-tiba mengalami koma selama 19 hari.

Alhamdulillah, setelah melewati masa kritis tersebut, ia dapat pulih kembali tanpa kekurangan apa pun.

Ada juga seorang perempuan muda yang mengembangkan platform belajar Al-Qur’an secara online. Saat ini ia telah bekerja sama dengan sekitar 300 guru mengaji dan memiliki ribuan pengguna.

Saya kagum melihat bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu pendidikan agama dengan skala yang cukup besar.

Namun, dari semua peserta yang maju, ada satu orang yang paling membuat saya terkejut.

Namanya Nickel.

Usianya baru 15 tahun.

Bahkan belum lulus SMP.

Awalnya saya mengira ia hanya ikut menemani ibunya. Ternyata ketika diminta maju oleh Pak Dahlan, ia justru menjelaskan bisnis yang sedang dijalankannya di bidang pertanian.

Ia membina petani melalui edukasi dan pendampingan, termasuk membantu menentukan waktu tanam yang tepat berdasarkan kondisi tertentu. Selain itu, ia juga sedang mengembangkan alat untuk membantu mengukur kondisi tanah.

Jujur saja, saya cukup kagum.

Di usia ketika sebagian besar anak seusianya mungkin masih sibuk bermain atau memikirkan tugas sekolah, ia sudah memikirkan bagaimana membantu petani dan membangun bisnis.

Setelah sesi sharing selesai dan makan siang dimulai, saya sengaja mencari kesempatan untuk berkenalan langsung dengannya.

Saya menceritakan bahwa perusahaan tempat saya bekerja juga mengembangkan aplikasi manajemen pertanian. Kami sempat berdiskusi singkat mengenai dunia pertanian dan saya pun meminta nomor kontaknya karena ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang sedang ia kerjakan.

Siapa tahu suatu saat nanti ada hal yang bisa dipelajari atau bahkan dikolaborasikan.

Setelah para peserta pria melaksanakan salat Jumat, rangkaian resmi Disway Explore Jateng pun berakhir.

Kami kembali ke Hotel Chanti untuk mengambil barang masing-masing.

Sebagian peserta memilih untuk langsung pulang ke kota asalnya. Ada juga yang memperpanjang masa tinggal untuk berlibur di Semarang.

Nah, saya termasuk kelompok kedua. Hehe

Sorenya, saya memutuskan untuk jalan-jalan bersama beberapa teman baru yang saya kenal selama acara.

Salah satunya adalah anak dari pemilik usaha gula semut yang sempat saya ceritakan pada tulisan sebelumnya. Ia nantinya akan meneruskan bisnis keluarganya.

Teman lainnya berasal dari SMG Sinar Mentari Group, perusahaan produsen pakan ternak besar yang berbasis di Blitar dan menyuplai banyak peternakan di berbagai daerah di Indonesia.

Kami berkumpul di Stasiun Semarang Tawang sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan Kota Lama.

Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menikmati suasana Kota Lama Semarang.

Bangunan-bangunan tuanya sangat cantik dan memiliki karakter yang kuat. Tidak heran kawasan ini selalu ramai oleh wisatawan yang ingin berfoto atau sekadar menikmati suasana.

Sepanjang perjalanan, kami banyak berbagi cerita mengenai pekerjaan masing-masing.

Saya tentu tidak melewatkan kesempatan untuk bercerita mengenai Sazara.

Menariknya, teman saya dari SMG menyampaikan bahwa perusahaan mereka sebenarnya memiliki kebutuhan yang cukup relevan dengan solusi yang sedang dikembangkan.

Misalnya, untuk pencatatan ternak, identifikasi induk, pencatatan kelahiran, kematian ternak, hingga monitoring populasi ternak secara real-time.

Mendengar itu, saya langsung teringat berbagai diskusi yang pernah kami lakukan di kantor mengenai pengembangan fitur-fitur Sazara.

Akhirnya saya pun membagikan landing page Sazara kepadanya.

Siapa tahu ada peluang yang bisa berkembang di kemudian hari.

Kami berjalan cukup jauh, bahkan mungkin dari satu ujung ke ujung lainnya.

Karena lelah, kami pun memutuskan berhenti di sebuah kafe untuk makan malam sekaligus beristirahat.

Di kafe tersebut ternyata tersedia photo booth.

Tentu saja kesempatan itu tidak kami lewatkan.

Sebagai kenang-kenangan, kami pun berfoto bersama.

Sekitar pukul 20.00 kami akhirnya berpisah.

Teman-teman saya langsung kembali ke Stasiun Tawang untuk pulang ke daerah masing-masing, sementara saya kembali ke hotel karena baru akan pulang ke Bekasi keesokan harinya.

Kalau dipikir-pikir, Disway Explore Jateng ini bukan hanya tentang mengunjungi perusahaan atau mendengarkan materi.

Yang paling berkesan justru adalah orang-orang yang saya temui di sepanjang perjalanan.

Karena sering kali inspirasi datang bukan dari panggung utama, melainkan dari obrolan-obrolan kecil dengan orang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Zahra Alhasany Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 responses to “Hari Kedua Disway Explore Jateng: Cerita dari Hari Terakhir”

  1. Nanik Avatar

    Tulisannya sangat menarik mba zahro

    Apalagi yang point ini :

    “Terkadang dalam dunia bisnis kita terlalu fokus pada target, angka, dan keuntungan, sampai lupa bahwa di balik semua itu ada manusia yang ingin diperlakukan dengan baik.”

    Kalau ditempat mba zahro bekerja, kira-kira point tersebut bagaimana? apakah perusahaannya hanya fokus target, dan mendapat keuntungan saja? atau tetap memperhatikan karyawan juga misal dalam hal gaji atau apresiasi atau fee tambahan misalnya untuk tim selalu mengerjakan project selesai tepat waktu?

    Karena karyawan pasti akan semangat kerjanya jika mendapat apresiasi atau fee tambahan dibanding hanya selalu bekerja tanpa ada apresiasi apapun 😀

    Dan karena ada sebuah candaan lucu dari Fitra Eri Youtuber Otomotif terkenal pernah bilang gini “Kita sebagai karyawan bekerja kadang sampai lembur itu hanya untuk memperkaya bos saja :-D, bos bisa beli mobil baru, karyawan cuma bisa beli mobil-mobilan :D”

    1. Zahra Alhasany Avatar

      Terima kasih banyak atas komentarnya.

      Menurut saya, perusahaan tentu perlu mengejar target dan keuntungan agar bisa terus bertahan dan berkembang. Namun di saat yang sama, perusahaan juga tidak boleh melupakan bahwa target-target tersebut dicapai oleh manusia yang ada di dalamnya.

      Karena itu saya pribadi setuju bahwa apresiasi memiliki peran yang penting. Bentuknya bisa bermacam-macam, tidak selalu harus berupa tambahan fee atau bonus. Kadang ucapan terima kasih yang tulus, pengakuan atas kontribusi seseorang, kesempatan untuk berkembang, atau lingkungan kerja yang sehat juga bisa menjadi bentuk apresiasi yang sangat berarti.

      Namun saya juga memahami bahwa ketika sebuah tim berhasil menyelesaikan proyek besar yang memberikan dampak positif bagi perusahaan, maka memberikan reward tambahan tentu merupakan sesuatu yang baik dan wajar untuk dipertimbangkan.

      Untuk perusahaan tempat saya bekerja saat ini, saya sangat bersyukur karena saya melihat adanya perhatian terhadap pengembangan dan apresiasi karyawan, baik melalui bonus tahunan, penyesuaian gaji, dan lain-lain. Hal ini membuat saya berpikir bahwa perusahaan juga memikirikan kesejahteraan karyawan. Meskipun tentu seperti perusahaan lainnya selalu ada ruang untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik lagi.