Jadi ceritanya, sebagai Personal Assistant, pekerjaan saya sehari-hari cukup beragam. Mulai dari mengatur jadwal, mengikuti meeting, membalas chat, menjadi penghubung ke berbagai pihak, sampai mengurus berbagai keperluan administratif. Kadang ada banyak hal yang harus diingat dalam waktu bersamaan, sehingga saya sering berpikir, butuh asisten yang bisa membantu mengingatkan berbagai hal dan bisa diajak berdiskusi kapan saja.
Di saat yang sama, saya melihat Suyen dan Zahwa sudah lebih dulu memiliki AI agent mereka sendiri yang membantu aktivitas sehari-hari. Melihat itu, saya jadi ikut tertarik. Saya mulai berpikir kalau mereka bisa punya AI agent yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, kenapa saya tidak mencoba membuat satu untuk membantu pekerjaan saya juga?
Dari situlah ide membuat AI agent ini muncul. Saya ingin punya “asisten digital” yang bisa saya ajak ngobrol lewat Telegram, membantu mengingatkan berbagai hal, dan nantinya bisa saya kembangkan sesuai cara kerja saya sendiri.
Akhirnya saya memberi nama AI agent tersebut: Humaira.
Namun, karena saya memang bukan orang IT, tentu prosesnya nggak saya kerjakan sendirian. Saya banyak dibantu Suyen dan Zahwa yang dengan sabar menjelaskan berbagai hal teknis setiap kali saya kebingungan. Jadi meskipun banyak istilah yang awalnya asing buat saya (meski sampai sekarang tetap asing), pelan-pelan saya mulai paham bagaimana semuanya bekerja (sedikit).
Salah paham di awal
Di awal, saya sudah punya gambaran ingin menggunakan OpenClaw sebagai fondasi AI agent ini. Hanya saja, karena namanya memang belum terlalu familiar, sempat terjadi salah paham. Awalnya dikira saya salah menyebut nama tool, sehingga kami mencoba pendekatan lain terlebih dahulu.
Kami sempat membuat bot Telegram dari awal menggunakan Claude Agent SDK dan beberapa library pendukung agar bisa terhubung ke Telegram. Secara struktur semuanya sudah terlihat rapi. Sayangnya, ketika dijalankan, bot tersebut terus gagal aktif.
Setelah dicek berkali-kali, ternyata penyebabnya cukup sederhana: ada konfigurasi token yang belum terisi. Setelah beberapa kali mencoba memperbaikinya, akhirnya kami memutuskan untuk mengulang semuanya dari awal agar lebih bersih daripada terus menambal konfigurasi yang sudah telanjur berantakan.
Ternyata OpenClaw memang jawabannya
Saat mencoba lagi dari awal, saya menjelaskan bahwa yang saya maksud memang benar-benar OpenClaw, bukan nama yang keliru.
Barulah kami menyadari bahwa OpenClaw sebenarnya sudah tersedia di salah satu server yang kami gunakan. Bahkan di dalamnya sudah ada AI agent lain yang lebih dulu berjalan dengan baik.
Artinya, kami tidak perlu membangun semuanya dari nol. Kami cukup menambahkan satu agent baru tanpa mengganggu agent yang sudah ada sebelumnya. Dari situlah proyek ini kemudian diberi nama Humaira-AI, dengan Hermes sebagai agent yang bertugas melayani percakapan di Telegram.
Belajar memahami prosesnya
Bagian teknis tentu masih menjadi tantangan terbesar buat saya. Untungnya saya banyak dibantu Suyen dan Zahwa selama proses pengembangannya. Mereka menjelaskan langkah demi langkah bagaimana agent baru dibuat, bagaimana menghubungkannya dengan bot Telegram yang sudah ada, hingga bagaimana seluruh alur percakapan bisa diteruskan ke AI agent tersebut.
Yang menarik buat saya adalah mengetahui bahwa setiap agent memiliki ruangnya masing-masing. Jadi meskipun berada di server yang sama, penambahan agent baru tidak akan mengganggu agent lain yang sudah berjalan. Dari situ saya mulai paham kalau sistemnya memang dirancang agar bisa berkembang tanpa harus mengubah semuanya dari awal.
Giliran saya mencoba sendiri

Setelah semuanya terlihat siap, saya akhirnya mencoba menggunakannya sendiri.
Saya membuka Telegram, lalu mengirim pesan pertama ke bot tersebut.
Alih-alih langsung mendapat balasan dari Hermes, yang muncul justru pesan bertuliskan “OpenClaw: access not configured” beserta beberapa kode. Awalnya saya sempat mengira ada yang salah.
Ternyata memang begitu mekanismenya. Pengguna baru harus mendapatkan izin terlebih dahulu sebelum bisa menggunakan AI agent tersebut. Jadi, pesan itu bukan error, melainkan mekanisme keamanan agar tidak semua orang bisa langsung mengakses bot.
Setelah akses saya diaktifkan, saya mencoba mengirim pesan sekali lagi.
Dan akhirnya… Hermes membalas.
Rasanya menyenangkan melihat AI agent yang sebelumnya hanya ada di kepala, sekarang benar-benar bisa diajak berbicara lewat Telegram.

Penutup
Buat sebagian orang, mungkin ini proyek yang sederhana. Tapi buat saya, ini pengalaman belajar yang seru.
Saya memang banyak dibantu oleh orang-orang yang lebih paham secara teknis. Namun, justru dari proses itulah saya jadi belajar sedikit demi sedikit tentang bagaimana AI agent dibangun, bagaimana alurnya bekerja, dan bagaimana semuanya bisa terhubung menjadi satu sistem.
Perjalanan Humaira tentu masih panjang. Saya masih ingin mengembangkan kepribadiannya, menambahkan berbagai kemampuan baru, mengatur hak akses pengguna, dan masih banyak lagi.
Semoga ini menjadi langkah pertama yang nantinya berkembang menjadi asisten AI yang benar-benar bisa membantu pekerjaan saya sehari-hari.

Leave a Reply